KENDARI – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 akan segera dilaksanakan, sebagai mekanisme dan juga kesempatan bagi masyarakat untuk menggunakan kedaulatannya sebagai warga negara indonesia dalam menentukan pemimpin mereka untuk 5 tahun kedepan.
Salah satu daerah yang akan melaksanakan pilkada adalah Kabupaten Konawe Utara (Konut), yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Ingar bingar pembahasan pilkada Konut sudah sangat ramai di perbincangankan, mulai soal figur dan rekam jejaknya, serta program rencana kedepannya, dan itu tidak hanya terjadi di dunia nyata seperti di pasar, warung makan dan tempat lainnya, tetapi juga terjadi di dunia maya seperti grup facebook ataupun grup whatsapp.
Di kesempatan ini, penulis tertarik mengulik bagaimana politik dinasti mulai di kembangkan di Konut, sebab ini perlu di sadari oleh masyarakat umum terutama bagi generasi muda sebagai pemilik dan pewaris daerah kedepannya.
Jika merefleksikan kembali bagaimana perjuangan pemekaran konawe utara, disana tidak hanya terdapat satu orang, satu golongan, atau satu keluarga saja yang berjuang, tetapi begitu banyak pihak yang berkontribusi hingga berhasil menjadi daerah otonom sendiri.
Lalu hari ini kita mau membiarkan Konawe Utara di kuasai oleh satu orang atau satu keluarga?, tentu saja tidak, sebagai generasi muda kita wajib menentang dan menolak ini, sebab Konawe Utara milik bersama bukan milik satu keluarga.
Jika kita tidak melawan dan menolak politik dinasti yang sedang dibangun oleh seseorang hari ini, maka kita yang bukan adik, bukan istri dan bukan anaknya tidak perlu bermimpi akan menjadi pemimpin di kampung kita dimasa yang akan datang.
Penulis ingin mengingatkan, kepada setiap kita yang bermimpi ingin menjadi pemimpin kedepan, kepada setiap ibu dan bapak yang bermimpi anaknya kelak bisa menjadi pemimpin, kepada setiap kakak yang berharap adiknya punya kesempatan menjadi bupati, atau kepada paman dan tante yang ingin melihat kemenakannya menjadi kepala daerah kedepan.
Jika kita tidak memutuskan rantai Politik dinasti yang sedang di bangun hari ini, maka kuburkan saja mimpi-mimpi itu.
Sebuah gambaran kedepan, setelah kekuasaan di serahkan kepada adik, maka besar kemungkinan 10 tahun kedepan kekuasaan itu akan di lanjutkan oleh istri, setelah 10 tahun kekuasaan dipegang istri, maka anak-anaknya siap untuk melanjutkan rantai kekuasaan tersebut.
Lalu bagaimana dengan kita yang sedang menyiapkan diri menjadi pemimpin kedepan, lalu bagaimana ibu bapak yang ingin menjadikan anaknya pemimpin daerah, lalu bagaimana dengan adik kita yang sedang belajar hari ini?, Punyakah mereka kesempatan, tentu saja kesempatan itu akan sirna di lilit oleh rantai politik dinasti, yang sedang di bangun hari ini jika berhasil.
Politik dinasti akan menelan banyak korban yaitu mereka yang lebih kompeten, mereka yang lebih berkualitas, mereka yang punya mimpi menjadi pemimpin di daerahnya.
Politik dinasti menutup ruang mereka dimasa depan.
Lalu bagaimana tugas kita hari ini?.
Tugas kita adalah menggalang kekuatan untuk memutuskan rantai politik dinasti yang sedang tumbuh sebelum menjulang tinggi dan berakar kuat.
Tugas kita adalah menghimpun mereka yang bermimpi jadi kepala daerah kedepan, menghimpun bapak dan ibu yang ingin anaknya menjadi bupati, menghimpun kakak yang ingin melihat adiknya menjadi kepala daerah kedepan.
Himpun kekuatan, putuskan rantai politik dinasti, dengan demikian terbukalah kesempatan bagi anak anak daerah yang kompeten, dan berkualitas untuk menjadi pemimpin dimasa yang akan datang.
Oleh: Key adisamsi
Editor :Ilham




















